Assalamualaikum sahabat
Bulan ini adalah bulah shafar bulan kedua dari tahun Hijriyah di mana bulan depan adalah bulan Rabi'ul awwal bulan ketiga dari tahun Hijriyah.
Bulan Rabi'ul awwal adalah bulan kelahiran sekaligus wafatnya Rosululloh SAW, dimana pada bulan ini umat Islam di Indonesia biasa memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. tapi disini aku tidak membahas tentang maulid nabi. aku hanya ingin bercerita kebiasaan didesa ku ketika datangnya bulan ini.
Dulu ada seorang yang cerdas di desa ini, suaranya menggelegar menutupi suara jamaah dzikir yang lain. sehingga membawa nama desa ini tersohor dikalangan ahli dzikir (Dzikir Maulid), diundang diberbagai desa ketika acara maulid nabi dan banyak yang datang untuk belajar dzikir.
Suatu ketika beliau sakit, banyak orang yang menginginkan posisinya, saat itu beliau sebagai ketua jamaah dzikir. sehingga konflik internal terjadi antara sesama jamaah, antara golongan yang satu dengan golongan lain. kekompakanpun seakan hilang yang ada adalah rasa dengki dan iri sehingga terjadilah kekacauan dalam pembacaan dzikirnya.
Setelah lama terserang penyakit parah beliau menghembuskan nafas terakhirnya, rasa duka menyelimuti desa kami, kini seorang yang cerdas itu telah tiada, seorang yang mempunyai suara indah itu telah pergi meninggalkan desa yang telah tersohor karenanya.
Singkat cerita musyawarah pemilihan ketua telah dilakukan dan terpilih seorang pengganti ketuanya, setelah lama berjalan tanpa seorang yang cerdas tadi, kesohoran desa ini berkurang dan tidak diunggulkan lagi dalam dunia dzikir maulid, undangan dari berbagi desa pun berkurang, bahkan pernah terjadi kefakuman serta dilecehkan oleh desa tetangga yang merasa sudah lebih baik dari desa kami.
Pada saat itu serentak, hati kami tergugah, hati kami bangun, hati kami bertanya-tanya mengapa hal seperti ini terjadi. para orang tua dan pemuda kemudian mengkaji masalah dalam desa ini terutama Jamaah dzikir, apa persalahan didalamnya, apa yang menyebabkan terjadinya kefakuman. Setelah mengkaji dan mengetahui permasalahannya, selama setahun penuh desa ini ramai dengan suara-suara dzikir yang biasa hanya terdengar dibulan shafar sampai Rabi'ul awwal saja, hingga akhirnya desa ini menemukan jati dirinya kembali.
sahabat tahukan kalian bagaimana suasana desa kami saat ini, setelah menemukan kembali jati dirinya, suasana didesa kami kembali menjadi tenang, tentram tidak ada obrolan-obrolan kekecewaan seperti terjadinya kefakuman lalu, saat ini orang atau jamaah yang ingin belajar berdtangan kembali tidak ada yang berani melecehkan jamaah dzikir desa kami, kejayaan kembali lagi, kekompakan terbangun lagi. Alhamdulillah
Saat ini generasi desa kami sangatlah banyak, meskipun pemuda kami tak berpendidikan tinggi tapi saya bangga dengan kekompakan masyarakat desa kami. karena kekompakan adalah senjata untuk bangkit dalam suatu golongan atau kelompok. tidak ada perebutan kekuasaan dan yang berkuasapun tidak ada rasa untuk menguasai. Jayalah selalu bangunlah peradaban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Orang baik akan selalu berkomentar jika membaca