Contoh.
- Siswa SD Sempu memiliki hoby bermain Footsal
- Bilangan yang habis dibagi 2 anatara 10 sampai dengan 30
Cara Menyampaikan Himpunan
Untuk Menyampaikan Himpunan terdapat 2 Metode yaitu.
- Metode Roster
Contoh. Bilangan ganjil N = (1,3,5,7.......................................)
2. Metode Rule
Yaitu Metode dengan menyebutkan syarat keanggotaannya.
Contoh, N=(x|xadalah bilangan asli)
Ada empat cara untuk menyatakan suatu himpunan
- Enumerasi
ISTILAH-ISTILAH DALAM HIMPUNAN
1. Himpunan kosong
himpunan yang tidak memiliki anggota.
himpunan kosong dinyatakan dengan simbol
Æ atau { }. himpunan {0} bukan himpunan kosong, melainkan suatu
himpunan yang mempunyai satu anggota yaitu bilangan nol.
2.
Himpuan yang Ekivalen
dua himpunan yang tidak kosong A dan B dikatakan
ekivalen jika banyaknya anggota A sama dengan banyaknya anggota B, ditulis
dengan n(A) = n(B) ata |A|
= |B|. Dengan demikian dua himpunan yang sama pasti ekivalen.
3.
Himpunan Bagian
himpunan B dikatakan himpunan bagian dari himpunan A jika
setiap xÎ B maka x Î A , dinotasikan dengan B Ì A . Dengan demikian B Ì
A dibaca sebagai “B terkandung di dalam A”. kita dapat
juga menulis dengan A É B
, yang berarti A mengandung B.
4. Himpunan Kuasa
himpunan kuasa dari himpunan A adalah suatu himpunan
yang anggotanya adalah semua himpunan bagian dari A, termasuk himpunan kosong
dan himpunan A sendiri. himpunan kuasa dinotasikan dengan p(a) atau 2a
Contoh : jika A
= {a, b, 5}, maka himpunan kuasa dari A
adalah { { }, {a}, {b}, [5}, {a,b}, {a,5}, {b,5},
{a,b,5} }
OPERASI DALAM HIMPUNAN
1. Operasi Gabungan (Union)
Defenisi : A U B = { x | x Î a atau x Îb }
Contoh
A = { 2, 3, 5, 7, 9} ; B = { 0,
1, 2, 4, 5, 6, } ; E = {1, 2, 4 }; C = { 10, 11, 14, 15} ; D = { anto, 14, l}
maka :
A U B = { 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9} dan A U D = {2, 3, 5, 7, 9, anto, 14, l}
B U C = {…………………………………………………………………………………………}
B U D = {…………………………………………………………………………………………}
C U D = {…………………………………………………………………………………………}
2. Operasi irisan (Intersection)
Definisi : A Ç B = { x | x Î A dan x Î B }
Contoh :
A = { 2, 3, 5, 7, 9}; B = { 0,
1, 2, 4, 5, 6, }; C = { 10, 11, 14, 15}; D = { ANTO, 14, L}; E = {1, 2, 4
}
maka
A Ç B = {2, 5} E
Ç B = { 1,2,4} A Ç C = { } A Ç E = {2} D Ç C = {14} A
Ç D = { }
3. Operasi beda setangkup (Simetris)
Definisi: A Å B = { x | (x Î A atau x Î B) dan x Ï(A Ç B) }
Operasi beda setangkup dapat
juga diperoleh dengan cara A Å B = (A U B) – (A Ç B) atau A Å B = (A - B) U (B - A)
contoh
•
A = {1,2,3,5,6,8,9,10} ;
B = {2,7,8,11} ; C = {1,3,5,7,9,11} ;
D = {0,1,2,5,6,7,9,12}
maka
•
A Å B ={1,2,3,5,6, 7,8,9,10,11} = {1,3,5,6, 7,
9,10,11}
•
B Å C = {1,2,3,5, 7,8,9, 11} = {1,2,3,5,8,9}
•
A Å C = {………………………………………………………………………………………}
•
A Å D = {………………………………………………………………………………………}
4. Operasi
Pelengkap (Complement)
definisi : AC = {
x | x Ï A dan
x Î S }
contoh :
•
S = { x
| x bilangan asli £ 14}; A = { 2, 3, 5, 6, 8); B = {1, 2, 4, 6,
7, 9, 13}
maka :
•
AC
= { 1,4,7, 9,10,11,12,13,14} dan BC
= {3,5, 8,11,12,14}